Entry: I Insist to be a Super Mom Monday, June 15, 2009



Hal yang paling aku suka dari membuat rencana (dan kemudian rencana itu berjalan sesuai keinginan) adalah membuat laju hidup minim dari stress.

Memutuskan kuliah tahun 2009 ini, di jurusan yang terkenal kesibukan wira-wirinya, sambil punya bayi, tentu butuh sebuah rencana BESAR yang sangat MATANG (walau kuasa ALLAH tentu yang paling berperan).. karena tanpa rencana matang, potensi stress sangat berpeluang muncul.

Sejauh ini memang tidak menyepelekan situasi 'rumit' yang mungkin terjadi ketika menggabungkan kuliah dengan punya bayi, tapi fakta demi fakta teknis yang mulai terkumpul makin membuka mataku tentang.. it might really needs effort.

Contohnya, tentang tempat tinggal. Aku sangat mendambakan sebuah situasi ideal, dimana tempat tinggalku haruslah sedekat mungkin dengan kampus. Kalo bisa satu gedung dengan kampus deh.. hehe. Bayangannya, kedekatan lokasi bisa membuat waktu dan jarak berpisah antara aku dan maryam semakin pendek. Aku bisa sesekali pulang di sela waktu istirahat, minimal untuk menyusui atau menemani dia main, atau ketika aku tidak bisa pulang, maryam bisa menyusulku ke kampus. Syarat sebuah tempat tinggal dengan peranku saat ini sebagai istri dan ibu pun sebisa mungkin memenuhi syarat:1. bersih menuju steril, 2. lingkungan hidup/ tetangga yang nyaman, 3. dapat menampung sepasang suami istri, bayi, ART, dan barang-barang yang cukup "banyak" dalam ruang-ruang yang mumpuni, 4. secara umum bisa mendukung kondisi psikologis dalam menjalani peran dan aktivitas sehari-hari.

Realitanya, tentu sangat sulit mendapatkan tempat tinggal seperti itu. Saat ini ada kandidat tempat tinggal yang (kelihatannya) memenuhi keempat syarat di atas, tapiiii.. jarak ke kampus gak terlalu deket, tapi juga gak terlalu jauh, setidaknya tidak lebih jauh dari tempat tinggal yang sekarang. Not forget to mention, kualitas baik diikuti harga yang 'sepadan'. Tempat tinggal ini udah yang paling ideal yang bisa ditemukan, jadi kesimpulannya harus bisa mengatasi 2 kendala tersebut. Jadi, paling tidak ada 1 faktor (yaitu faktor tempat tinggal) yang belum bisa support realisasi rencana BESAR dan MATANG di atas.

Wajar aja lah kalo segala sesuatu tidak harus sejalan dan sesuai yang kita mau, pasti ada level tantangan dan ujian yang siap menghadang. and those obstacles exist to make me more mature.. insyaALLAH.

Faktor kedua adalah faktor beban kuliah. Aku tahu jurusan yang kupilih salah satu jurusan yang cukup berat beban tugasnya, walau aku sendiri belum kebayang detil beratnya seperti apa. Info dari teman yang udah duluan masuk jurusan ini dari 2007 lalu sharing tentang beban kuliah.. keliatannya yang paling 'santai' memang semester 1. Seiring dengan bertambah semester, maka jadwal makin padat. Rada tegang juga mikir meninggalkan maryam di rumah dengan ART.. Kalo cuma sekedar nyetok ASI di rumah mungkin bisa dikejar dan diakal2in, atau cuma sekedar mencukupi kebutuhan sekunder berupa barang ya InsyaALLAH bisa deh.. tapi kebutuhan attachmentnya dengan kehangatan bundanya? perkembangan emosinya? perkembangan bahasanya? perkembangan moralnya? 

Again, I discuss it with my Prasetyo. Kita sadar betul lah 2 tahun pertama adalah golden age seorang anak. Sementara kalo kata freud, 5 tahun pertama yang terekam dalam otak anak bisa tertancap kuat hingga dewasa.

Tentu dengan kesadaran itu, I insist to be a super mom.. Ngejar master degree (dan bercita2 cum laude, 'amiin) sambil punya bayi yang tercukupi kebutuhan fisik dan emosinya, entah gimana caranya. Soalnya aku sadar betul, saat ini bener-bener kesempatan yang langka untuk dilewatkan, lagi penuh2nya dukungan.. Jika aku bisa sampe di ujung sesuai dengan apa yang kucita-citakan, tentu hasil akhir itu akan jadi salah satu prestasi paling kereeen... Toh banyak perempuan yang bisa dan sukses lebih keren daripada aku, ada yang S3 sambil punya 2 anak.. ada yang kuliah, punya anak, di luar negeri.. Udahlah nuy, mantapkan!!

So here I am. Mantap walau agak deg2an.. Rencana BESAR dan MATANG tetap digagas.. Namun, porsikan tawakkal juga lah yaa.. toh jika diniatkan ibadah, mudah2an hambatan yang akan dihadapi diiringi dengan kemudahan. Semangat bunda!!

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments